۩Thanks To ۩

Thursday, July 14, 2011

Makalah Perkembangan Filologi di Arab

BAB IPENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang Masalah Filologi secara etimologi berasal dari kata philo (cinta) dan logos (kata) dari bahasa Yunani. Dengan demikian Filologi dapat diartikan “cinta kata”, “senang bertutur” dan “senang belajar”. Filologi juga mempunyai tujuan khusus, yakni mendeskripsikan dan menyajikan suatu teks tertulis di dalam naskah dalam wujud yang paling tepat. Filologi mempunyai tugas untuk menjabarkan ide-ide, gagasan, peristiwa, dan pandangan hidup.
II.       Identifikasi Masalah          Dalam makalah ini penulis akan membahas perkembangan pentingnya filologi di Timur Tengah.

III.      Batasan Masalah          Agar dalam pembahasan masalah tidak semakin meluas, penulis membatasi masalah hanya pada ruang lingkup filologi di Timur Tengah.
IV.             Metode Pembahasan
          Dalam hal ini penulis menggunakan, penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku filologi.


BAB IIDalam segala bidang kehidupan, dapat dirasakan unsur-unsur yang berakar pada kebudayaan Yunani Lama yang aspek-aspeknya tersimpan dalam naskah-naskah lama milik bangsa itu. Diantara cabang ilmu yang mampu membuka aspek-aspek tersebut adalah ilmu filologi. Kebudayaan Yunani Lama tidak hanya berpengaruh di dunia Barat, tapi berpengaruh juga dibagian dunia yang lain, seperti kawasan Timur Tengah, Asia dan Asia Tenggara, serta kawasan Nusantara.            Negara Timur Tengah mendapatkan ide filsapati dan ilmu eksakta terutama dari bangsa Yunani lama. Sejak abad ke-4 beberapa kota di Timur Tengah telah memiliki perguruan tinggi, pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani. Seperti Gaza sebagai pusat ilmu oratori, Beirut dalam bidang hukum, Edessa dalam kebudayaan Yunani pada umumnya, demikian pula di Antioch.            Karena pada abad ke-5 kota Edessa dilanda perpecahan gerejani maka banyaklah ahli filologi berasal dari kota dan pindah ke kawasan Persia. Oleh kaisar Anusyirwan mereka disambut baik dan diberi kedudukan ilmiah di Akademi Jundi Syapur, pusat studi ilmu filsafat dan ilmu kedokteran. Dalam lembaga ini banyak naskah Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Siria dan kedalam bahasa Arab.            Pada dinasti Abasiyah, dalam pemerintahan Khalifah Mansur (754-775), Harun Alrasyid (786-809), dan Makmum (809-833) studi naskah Yunani semakin berkembang dan berpuncak pada pemerintahan Makmum. Pada waktu itu dikenal tiga penerjemah, yaitu Qusta bin Luqa, Hunain bin Ishaq, dan Hubaisyi yang ketiganya beragama nasrani. Hunain yang peling luas pengetahuannya, menguasai bahasa Arab, Yunani, Persia, bahasa ibunya adalah bahasa Arab. Sejak berumur tujuh tahun, ia sudah menjadi penerjemah kedalam bahasa-bahasa tersebut. Keterampilannya itu diperoleh saat ia tinggal di kota yang multilingual. Pada waktu itu masih banyak tersimpan didaerahnya naskah-naskah Yunani, dan Hunain rajin mencari naskah lama Yunani sampai ke Mesir, Siria, Palestina, Mesopotania.            Disamping melakukan telaah terhadap naskah-naskah Yunani, para ahli filologi dikawasan Timur Tengah juga menerapkan teori filologi terhadap naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulis-penulis dari daerah itu.
            Bangsa-bangsa di Timur Tengah memang dikenal sebagai bangsa yang memiliki dokumen lama berisi nilai yang agung, seperti karya tulis yang dihasilkan oleh bangsa Arab dan Persi (Arberry, 1968:199-22), Nicholson, 1952 : 180-209). Sebelum kedatangan Islam, dalam bentuk prosa dan puisi, misalnya Mu’allaqat dan Qusidah pada bangsa Arab (Nicholson, 1953 : 76-77).            Pada abad ke-10 hingga abad ke-13, karya sastra mistik Islam berkembang semakin maju, misalnya Mantigal-Tair susunan Farid al-Din al-Tar, Mathnawi I Ma’nawi karya Jalal al-Din al-Rumi. Puisi penyair Persi terkenal, Umar Khayyam, serta cerita Seribu Satu Malam hingga saat ini masih dikenal di dunia berat, dan berkali-kali diterjemahkan dalam bahasa Barat dan bahasa Timur.            Meluasnya kekuasaan dinasti Umayah ke Spanyol dan Andalusia pada abad ke-8 sampai abad ke-15 membuka dimensi baru bagitelaah karya tulis dari kawasan Timur Tengah yang masuk ke Eropa daratan pada waktu itu. Banyak karya sastra Arab dan Persi yang dikenal di Eropa dalam periode kekuasaan dinasti Umayah di Eropa. Orientalis yang terkenal pada waktu itu adalah Albertus Magnus, ahli filsafat Aristoteles melalui tulisan-tulisan Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Gazhali, dia mengajar pada abad ke-12.            Sedangkan pada abad ke-13, Roger Bacon dan Raymond Luli belajar bahasa Arab dan Persi untuk mempelajari ilmu filsafat Yunani. Dan pada waktu itu pula, di pusat studi Montpillier, dilakukan penerjemahan karya tulis Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina kedalam bahasa Latin.            Pada abad ke-17, telaah teks klasik Arab dan Persi di Eropa telah dipandang mantap terutama di Cambridge dan Oxford. Selain naskah Arab, naskah Turki, Ibrani dan Siria juga sudah mulai dipelajari.            Pada akhir abad ke-18, di Paris didirikan pusat studi kebudayaan ketimuran oleh Silvester de Sacy dengan nama Ecole des Langues Orientales Vivantes. Di pusat studi kebudayaan itu, banyak dipelajari naskah dari Timur Tengah oleh ahli kawasan Eropa. Serta di pusat studi kebudayaan tersebut lahirlah ahli orientalis Eropa terkemuka dengan karangan yang bermutu.            Mereka antara lain Etienne Quatremere (1782-1857) telah menerjemahkan Tarikh al-Mamalik, karya Al-Maqrizi serta Muqaddimah Ibnu Khaldun dalam bahasa Perancis dan menerbitkan naskahnya dalam bahasa Arab; de Slane. De Sacy dipandang sebagai Bapak orientalis di Eropa karena Ecole des Langues Orientalis Vivantes lahir banyak orientalis Eropa yang banyak karyanya dalam bidang telaah karya tulis kawasan Timur Tengah pada umumnya.
BAB IIIPENUTUP
I.                  Kesimpulan            Setiap perkembangan filologi di Timur Tengah mengalami kemajuan yang pesat disetiap abad perkembangannya. Dari awal yang bahasa Arab belum banyak dikenal orang diseluruh penjuru dunia, perlahan tapi pasti dengan bantuan para orientalis terkenal seperti Umar Khayamm, Albertus Magnus,  De Sacy, dan lainnya. Berkat merekalah, bahasa Arab dapat berkembang tak hanya di Timur Tengah, tapi juga diseluruh penjuru bagian Barat dan Eropa.

☝Thanks for reading guys. And please coment me ✍

No comments: