۩Thanks To ۩

Monday, December 26, 2011

Menulis Karya Ilmiah : Artikel Penelitian


KETIDAKADILAN GENDER PADA TOKOH UTAMA WANITA
DALAM NOVEL BELLA DONA NOVA KARYA NANING PRANOTO
Oleh Atri Kemalasari Suryani
Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK
Kehidupan sosial di lingkungan pengarang menjadikan bahan dalam menciptakan karya sastra, dan masyarakat menjadikan karya sastra yang diciptakan pengarang terasa lebih hidup. Salah satu fenomena social yang terjadi di masyarakat adalah masalah ketidakadilan gender. Masalah ini mencuat seiring dengan gerakan feminisme yang semakin meluas. Fenomena ketidakadilan gender menjadi suatu yang menarik untuk diperbincangkan. Ketidakadilan gender muncul dengan adanya masalah yang menyangkut keberadaan perempuan. Selama ini perempuan ditempatkan dalam posisi yang terpinggirkan. Hal itu yang digambarkan pada tokoh wanita dalam novel Bella Donna Nova karya Naning Pranoto. Fokus pembahasan pada penelitian ini terletak pada dua tokoh wanita yang mendapat ketidakadilan gender yaitu Kunti dan Nova. Ketidakadilan yang didapat yaitu dalam bentuk stereotip munculnya pandangan bahwa perempuan lemah, mudah dirayu, dan halus perasaannya. Bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami Kunti dan Nova berupa pemerkosaan dalam rumah tangga. Penyebab ketidakadilan gender yang menimpa tokoh wanita ada dua faktor yaitu faktor intern yang berupa pandangan bahwa wanita itu lemah, dan faktor ekstern yaitu kondisi Nova yang pada saat itu sangat putus asa dengan keadaan yang dialami. Sikap tokoh wanita yang mendapat ketidakadilan gender yaitu sikap menolak dan sikap menerima.



Pendahuluan
Sastra merupakan gejala kejiwaan yang di dalamnya terdapat fenomena-fenomena kehidupan yang sesuai dengan realita masyarakat. Karya-karya sastra merupakan buah pikiran seorang pengarang karena antara penarang satu dengan pengarang yang lain dalam menampilkan karyanya berbeda dan mempuinyai ciri khas yang berbeda-beda (Aminudin 1987:93).
Novel merupakan salah satu karya sastra yang mengisahkan bagian penting dari segi kehidupan manusia dan di dalamnya terdapat peristiwa yang dialami oleh tokoh utama dengan berbagai peran dalam kehidupannya. Menurut Saini (1986:29), novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa dalam ukuran yang luas dengan  cerita yang kompleks.
Berbicara mengenai karya sastra dalam hubungannya dengan peran tokoh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah seorang pengarang wanita Indonesia yang banyak menciptakan karya satra yang bertema peran wanita adalah Naning Pranoto. Novel Bella Donna Nova merupakan salah satu hasil karyanya, yang berisi tentang kondisi perempuan dengan berbagai permasalahan sehari-hari.
Pada novel tersebut diceritakan Kunti adalah seorang wartawati yang bekerja disebuah persuratkabaran ternama di Indonesia. Karena kesibukannya, ia selalu menunda kehamilannya, padahal umur pernikahannya dengan Hapsoro sudah sepuluh tahun. Keinginan Hapsoro untuk mempunyai anak, membuat ia berlaku kasar terhadap Kunti. Kunti sendiri sebenarnya ingin cepat mempunyai anak, tapi ia ingin menyelesaikan karir dulu, dan setelah itu, baru memikirkan anak. Kunti sering mengalami kekerasan rumah tangga dalam bentuk pemerkosaan. Bahkan Hapsoro menyalahkan Kunti ketika hati Hapsoro mulai mendua pada Nova.
Penggambaran tokoh utama dalam novel Bella Donna Nova karya Naning Pranoto yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungannya, pada kenyataannya sangat menarik di telaah terutama pada tokohnya dalam menghadapi ketidakadilan gender. Persoalan-persoalan yang dihadapi pada tokoh wanita merupakan masalah gender (perselingkuhan, pelecehan seksual, ketidakadilan, pemaksaan hak). Hal ini yang mengakibatkan novel ini merupakan salah satu novel yang didalamnya terdapat ketidakadilan gender.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Di dalam penelitian ini terfokuskan pada analisis tokoh dan penokohan yang merupakan prioritas pertama sebelum diterapkan analisis lain. Pendekatan ini digunakan karenakan di dalam permasalahan yang diajukan meliputi bentuk ketidakadilan gender pada tokoh wanita, yang dapat dianalisis dengan teks untuk mengetahui strukturnya, sehingga permasalahan dapat diselesaikan.
            Tokoh wanita yang mendapat ketidakadilan gender dalam novel Bella Donna Nova merupakan sasaran dalam penelitian ini. Ketidakadilan gender tersebut difokuskan pada bentuk dan penyebab ketidakadilan serta sikap tokoh wanita yang menghadapi ketidakadilan gender. Sumber yang digunakan adalah novel Bella Donna Nova karya Naning Pranoto yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, tahun 2004. Teknik analisis dengan membahas tokoh bertujuan untuk mempermudah bahasan tentang manifestasi ketidakadilan gender. Prosedur yang digunakan adalah dengan membaca teks sastra, kemudian memahami teori-teori yang akan digunakan, dilanjutkan dengan mengkaji permasalahan yang diangkat, faktor penyebab, dan sikap tokoh. Kemudian diakhiri dengan pembuatan simpulan dari hasil kajian.
Landasan Teori
Tokoh dan Penokohan
Tokoh cerita menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 1995: 165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Badudu dan Zain (1996:152) mengartikan tokoh sebagai pemegang peran penting dalam cerita-cerita roman, novel, dan cerita pendek.
Penokohan adalah penciptaan cerita tokoh dalam karya satra (Kridalaksana 1997:165). Sesuai dengan pengertian tokoh,  Esten (1990:27) mengatakan bahwa penokohan adalah bagaimana ara pen garang menggambarkan dan mengembangkan watak-watak, tokoh-tokoh, dalam sebuah cerita rekaan. Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh tersebut dan mengembangkan watak dari tokoh tersebut yang memiliki tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat, perkembangan haruslah wajar dan dapat diterima berdasar hubungan kausalitas.
Sosiologi Satra
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Asumsi dasar penelitian sosiologi sastra adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan sosial. Kehidupan sosial akan menjadi picu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zaman. Menurut Goldmann (1981: 11) sosiologi sastra memiliki tiga ciri dasar, yaitu: 1) kecenderungan manusia untuk mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan, dengan demikian ia dapat berwatak rasional dan signifikan di dalam korelasinya dengan lingkungan., 2) kecenderungan pada kohesi pada proses perstrukturan yang global, dan 3) dengan sendirinya ia mempunyai sifat dinamik serta kecenderungan untuk mengubah struktur walaupun manusia menjadi bagian struktur tersebut.
Dalam konteks metodologis, sosiologi sastra memang senantiasa mengalami perubahan. Pada mulanya, sosiologi sastra diletakkan dalam kerangka penelitian positivisme, yang berusaha mencari hubungan antara faktor iklim, geografi, filsafat, dan politik. Dalam kaitan ini, sastra diperlakukan sebagaimana penelitian ilmiah lain. Perkembangan berikutnya, sosiologi sastra justru menolak positivisme. Pendekatan sosiologi sastra lalu diarahkan pada telaah refleksi nilai. Hal ini berdasrkan pengertian bahwa karya sastra akan menyajikan sejumlah nilai yang berkaitan dengan keadaan masyarakat masa teks ditulis.
Gender dan Ketidakadilan Gender
Secara umum gender dapat didefinisikan sebagai pembedaan-pembedaan yang bersifat sosial , perbedaan-perbedaan biologis, jenis kelamin. Konsep penting dalam rangka membahas kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender. Pengertian jenis kelamin merupakan sifat atau bagian dalam jenis kelamin tertentu.
     Adanya anggapan bahwa perempuan dikenal lemah, lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sedangkan laki-laki dikenal kuat, perkasa, rasional. Semua ciri dari sifat itu dapat dipertukarkan. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan ada kaitan yang erat antara perbedaaan gender dan ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara luas (Fakih 2003: 7-9).
Manifestasi Ketidakadilan Gender
Ketidakadilan gender, termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotik atau melalui pelabelan negative, kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi peran gender. Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis (Fakih, 2003:12-13).
Marginalisasi merupakan proses peminggiran terhadap kaum perempuan dimana perempuan dibedakan dengan laki-laki tanpa memperhatikan dampak yang akan terjadi. Ada pandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang emosional. Maka ia dipandang tidak bisa memimpin dan karena itu ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi merupakan adanya anggapan tidak penting terhadap perempuan.  Dalam pandangan stereotik, cenderung memojokkan kaum perempuan.  Bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakt cenderung menyalahkan korbannya. Pada dasarnya kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.
a.       Marginalisasi Perempuan
Pada novel Bella Donna Nova karya Naning Pranoto menampilkan dua tokoh wanita yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan dalam masyarakat, yaitu Kunti dan Nova. Keduanya mengalami pemarginalisasian rumah tangga melalui suami masing-masing, Hapsoro dan Don. Tokoh Nova dianggap makhluk lemah, bodoh, miskin, oleh suaminya sendiri, Don. Don berpikir bahwa ialah yang menjadikan hidup Nova berkecukupan, ialah yang kaya, sedangkan Nova tak akan bisa hidup jika tak bergantung padanya.
Sekarang ini sugesti tentang perempuan adalah makhluk lemah, telah menjadi label masyarakat, bahkan kaum intelektual. Anggapan perempuan sebagai makhluk lemah menyebabkan terbentuknya struktur ketergantungan perempuan terhadap laki-laki.
b.      Stereotip Perempuan
Stereotip atau pelabelan masyarakat, terlihat jelas pada novel ini, ketika Nova mengalami pemerkosaan berkali-kali. Masyarakat menganggap bahwa penyebab laki-laki memerkosanya adalah karena kemolekan tubuh dan mata hitamnya. Mereka menganggap Nova sengaja memancing hasrat laki-laki untuk mendekatinya. Bahkan penyebab Don, duda tua kaya yang berusia delapan puluh tahun, memperistri Nova adalah karena terpancingnya hasrat birahinya.
c.       Kekerasan Perempuan
Lemahnya fisik perempuan daripada fisik laki-laki sehingga perempuan tak kuasa menolak kekuatan laki-laki, menyebabkan kekerasan sering terjadi. Dalam novel ini terjadi kekerasan rumah tangga terhadap tokoh perempuan, ketika Kunti dan Nova diperkosa.
kunti mengalami kekerasan fisik dalam rumah tangga dengan bentuk pemerkosaan. Kunti yang sat itu sedang tidak ingin berhubungan seksual, dipaksa oleh Hapsoro karena Hapsoro ingin cepat memiliki anak.
Kekerasan perempuan juga terjadi pada Nova. Sebelum ia menikah dengan Don, ia sudah diperkosa berkali-kali hingga memiliki satu orang anak. Saat menikah dengan Donpun, ia masih merasakan kekerasan rumah tangga, karena ia erasa diperlakukan seperti budak nafsu oleh Don.
Konsep Sikap
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atas situasi yang relative sama, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat perilaku dalam cara terntentu yang dipilihnya (Walgito, 1991:109). sikap mengandung tiga komponen, yaitu : komponrn kognitif, komponon afektif, komponen konatif.
Dengan mengetahui sikap seseorang, maka kita dapat mengetahui respon seseorang atau tindakan yang akan diambil tersebut terhadap masalah atau keadaan yang dihadapinya. Bila seseorang dipaksakan mengatak atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan sikapnya, maka akan adanya kecenderungan untuk mengubah sikapnya sedekmikian rupa hingga menjadi komponen ydengan apa yang dikatakan dan dikerjakan. Makin besar tekanan, atau paksaan akan menimbulkan perilaku yang berlawanan dengan sikap seseorang makin sedikit kemungkinan berubahnya sikap yang diharapkan.
Kesimpulan
Manifestasi keidakadilan gender yang ditemukan dalam penelitian adalah marginalisasi perempuan, stereotip perempuan, dan kekerasan perempuan. Marginlisasi perempuan nampak pada tokoh Nova yang dianggap lemah oleh Don. Stereotip juga nampak pada tokoh Nova yang diperkosa berkali-kali, dan masyarakat menganggap bahwa Nova lah penyebabnya. Bentuk kekerasan terlihat pada pemerkosaan terhadap kedua tokoh, Kunti dan Nova.



DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender & Reproduksi Kekuasaan. Yogyakarta : Tarawang Press
Amminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : Sinar Baru
Badudu, J.s.Zain, Muhamad. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Bhasin, Kamla. 2001. Memahami Gender. Jakarta : Teplok Press
Budiyanta, Melani. 2002. Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar. Dalam Kris Budiman (ed). Analisi Wacana dari Linguistik sampai Dekonstruksi. Yogyakarta : Kamal
Budiman, Kris. 2000. Feminis Laki-Laki dan Budaya Gender. Magelang : Yayasan Indonesia Terrant
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Ringkasan Sosiologi Sastra : Sebuah Pengantar. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta : Pustaka Wida Tama
Nurdiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Tyogyakarta : Gadjah Mada University Press
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesastraan. Di Indonesiakan Oleh Melani Budiyanta. Jakarta : Gramedia



☝Thanks for reading guys. And please coment me ✍

1 comment:

Lembaga Penelitian UG said...

Sehubungan dengan akan diselenggarakan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur dan Teknik Sipil (PESAT) 2013 dengan tema Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Revitalisasi Peradaban pada tanggal 8-9 Oktober 2013 di Bandung, maka kami mengundang Bapak/ibu/sdr/sdri turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada alamat URL http://penelitian.gunadarma.ac.id/pesat