۩Thanks To ۩

Wednesday, January 18, 2012

ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI BERDASARKAN TEORI RESEPSI


TA. Pengkajian Prosa

- Sehingga dapat disimpulkan bahwa novel best seller Laskar Pelangi yang dianggap dan dipuja pecinta sastra sebagai novel fenomenal, ternyata memiliki pembaca yang tidak menyukai dari segi-segi terntentu novel Laskar Pelangi. -



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Laskar Pelangi merupakan salah satu novel fenomenal di Indonesia. Novel yang terbit tahun 2005 tersebut. Sang pengarang, Andrea Hirata, menerima berbagai penghargaan. Banyak pembaca yang tertarik dan menyukai novel tersebut, namun tak sedikit juga pembaca yang tidak menyukai novel tersebut berdasarkan alasan tertentu.
Untuk mengetahui pendapat pembaca mengenai novel Laskar Pelangi, perluah diteliti menggunakan pendekatan resepsi. Dalam hal ini penulis menggunakan penelitian resepsi diakronis, yang diambil dari sejak pertama terbit pada tahun 2005 hingga tahun 2011, dimana novel Laskar Pelangi sudah berkembang menjadi film layar lebar, opera, dan serial di televisi.

B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin meneliti resepi pembaca diakronis terhadap novel Laskar Pelangi untuk mengetahui bagaimana pendapat pembaca dari tahun ke tahun tentang novel Laskar Pelangi?

BAB II
PEMBAHASAN

A.           Landasan Teori
Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (latin), reception (inggris) yang berarti sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya sehingga dapat memberikan respon terhadapnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo bahwa resepsi sastra adalah estetika (ilmu keindahan) yang mengacu kepada tanggapan atau resepsi pembaca karya sastra dari waktu ke waktu. Selanjutnya, Endraswara mengemukakan bahwa resepsi berarti menerima atau penikmatan karya sastra oleh pembaca.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa resepsi sastra merupakan penelitian yang memfokuskan perhatian kepada pembaca, yaitu bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra, sehingga memberikan reaksi terhadap teks tersebut. Pembaca yang dimaksudkan dalam resepsi terbagi menjadi dua, yaitu pembaca biasa dan pembaca ideal. Pembaca biasa adalah pembaca dalam arti yang sebenarnya, yang membaca karya sastra sebagai karya sastra bukan sebagai bahan penelitian. Pembaca ideal adalah pembaca yang membaca karya sastra sebagai bahan penelitian.
Dalam penelitian resepsi ada dua cara, yaitu sastra sinkronis, meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan pembaca sezaman dan resepsi sastra diakronis melibatkan pembaca sepanjang sejarah. Iser (Ibid: 182-203) mengintroduksi konsep ruang kosong, ruang yang disediakan oleh penulis, dimana pembaca secara kreatif, secara bebas dapat mengisinya.
Ruang kosong dengan sendirinya merupaka lokus utama bagi kualitas interpretasi. Dalam hubungan ini dikatakan bahwa pembaca diarahkan oleh teks. Dalam hubungan ini jelas kemampuan pembaca sebagai instansi memegang peran penting, artinya pembaca yang bisa diarahkan justru pembaca yang memiliki kemampuan, pembaca sebagai gudang pengalaman, bukan pembaca yang miskin pengalaman.

B.            Laskar Pelangi
Novel karya Andrea Hirata sejak diterbitkan 2005 oleh Bentang Pustaka, sudah dicetak 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar. Cerita novel ini diawali saat SD Muhammadiyah, sekolah kampung di Belitong dengan fasilitas yang sangat minus, membuka pendaftaran untuk murid baru kelas satu. Hingga saat2 terakhir pendaftaran hanya 9 orang anak yang mendaftar dan siap masuk kelas di hari pertama. Padahal sekolah reot ini sudah diancam untuk membubarkan diri jika murid barunya kurang dari 10 orang.
Di kalangan bawah, menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada beban biaya yang harus ditanggung selama bertahun2. Dan tertutupnya kesempatan untuk mempekerjakan si anak secara penuh waktu demi membantu mengurangi beban hidup yang semakin berat.
Jika tak ada Harun, seorang anak berusia 15 tahun dengan keterbelakangan mental, yang disekolahkan oleh ibunya agar tidak cuma mengejar anak ayam di rumah, tentu tidak pernah terjadi kisah ini. Ikal tidak akan pernah bertemu, berteman satu kelas dengan Lintang, Mahar, Syahdan, A Kiong, Kucai, Borek alias Samson, Sahara, Trapani, dan Harun. Tidak akan pernah bertemu Bu Muslimah, guru penuh kasih namun penuh komitmen untuk mencerdaskan anak didiknya. Dan tidak akan pernah ada Laskar Pelangi, yang di musim hujan selalu melakukan ritual melihat pelangi sore hari dengan bertengger di dahan2 pohon filicium yang ada di depan kelas mereka.
Selanjutnya dikisahkan ragam kejadian yang penuh suka dan duka dari kesepuluh anak anggota Laskar Pelangi. Di tengah cerita, Laskar Pelangi mendapat anggota kesebelas, anggota wanita kedua, Flo.
Berkisah tentang Lintang, anak super genius didikan alam, yang rumahnya berjarak 40 km dari sekolah dan dilaluinya dengan bersepeda setiap hari tanpa mengeluh. Bahkan ketika suatu hari rantai sepedanya putus, dia rela berjalan kaki menuntun sepedanya ke sekolah. Dan merasa bahagia karena masih mendapat kesempatan ikut menyanyikan Padamu Negeri di jam pelajaran terakhir.
Berkisah tentang Mahar anak genius berikutnya, tapi yang satu ini genius dalam bakat seni. Berkisah tentang rutinitas membeli kapur tulis di toko yang jauh dari sekolah dan berbau busuk, menggiring ke kisah cinta pertama Ikal kepada A Ling yang berkuku indah. Tentang keberhasilan mereka mengangkat nama SD Muhammadiyah yang selama ini selalu dianggap remeh dalam acara karnaval 17 Agustus dan lomba cerdas-cermat. Tentang cita-cita Ikal. Tentang hilangnya Flo. Tentang petualangan mistis ke Pulau Lanun menemui Tuk Bayan Tula bersama Flo dan Mahar. Dan bagian pertama ini ditutup dengan kesedihan mendalam yang sangat mengharukan saat Laskar Pelangi harus merelakan perginya seorang teman yang kurang beruntung.
Bagian pertama itu mengambil rentang waktu dari hari pertama Laskar Pelangi masuk kelas satu Sekolah Dasar Muhammadiyah hingga empat bulan menjelang Ebtanas SMP di gedung sekolah yang sama dengan orang2 yang sama (tambah Flo tentunya).
Pada bagian kedua, kisah ini melompat dua belas tahun kemudian saat Laskar Pelangi telah menjadi sosok dewasa yang harus berjuang keras dan gigih untuk mendapatkan apa yang mereka cita-citakan dalam kehidupan nyata. Masing2 menjalani suratan hidupnya yang sudah ditetapkan. Ada yang berjalan sesuai cita2nya, ada yang tidak terduga lompatannya, ada juga yang menyerah pada nasib yang sudah tergambar jelas sejak dahulu.
Kesuksesan novel Laskar Pelangi membuat produser film ingin mengangkatnya ke layar lebar. Dengan disutradarai oleh Mira Lesamana dan Riri Reza, akhirnya pada tahun 2008, Laskar Pelangi berada dalam layar lebar. Setelah berhasil diangkat ke layar lebar, tahun 2011 juga diadakan pementasan drama musikal Laskar Pelangi. Kemudian pada tahun 2012, mulai dibuatlah serial Laskar Pelangi di televisi.

C.           Analisis Resepsi Novel Laskar Pelangi
Dalam analisis ini akan dilakukan pendekatan resepsi diakronis, yang mengambil tanggapan dari pembaca-pembaca novel Laskar Pelangi. Tanggapan pembaca diambil pada tahun 2005 hingga 2012. Berikut data yang didapatkan melalui berbagai sumber dan media.
1.        Neenoy – 14 Juni 2006
Ada beberapa hal yang sedikit mengganggu ketika membaca Laskar Pelangi. Kisah ini mengambil rentang waktu yang cukup panjang. Masa sebelas anggota Laskar Pelangi mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah sendiri adalah sekitar 9 tahun. Fragmen-fragmen pengalaman mereka berada di kisaran waktu ini. Namun saya merasakan penulis kurang membantu pembaca untuk mengetahui penggal waktu yang tepat untuk masing-masing fragmen. Apakah peristiwa A terjadi ketika mereka masih berusia 10 tahun, ataukah 14 tahun? Saya harus benar-benar teliti membacanya untuk membayangkan usia dan sosok anggota Laskar Pelangi ketika suatu penggal peristiwa terjadi. Selain itu ada beberapa hal kecil lainnya yang juga mengganggu. Hey, tapi semua itu tidak mengurangi rasa salut saya terhadap karya ini.
2.        Judith – 13 Desember 2006
Buku ini benar-benar menghanyutkan saya, kareana lama tidak dengar buku yang kaya akan ilmu pengetahuan tetapi tidak ada kesan menggurui yang membosankan.
3.        Marshella/XII IPA/15 - 20 September 2008
Menurut saya, novel laskar pelangi sangat bagus walau saya akui waktu pertama kali membaca novel ini saya sangat bosan sekali karena terlalu banyak prolog dan menceritakan hal-hal yang menurut saya tidak penting. Seperti menjelaskan pohon atau PN Timah saja sampai kira-kira satu halaman. Hal itu juga sangat bagus karena sang penulis sangat tahu segalanya. Tetapi lama kelamaan saya membaca novel ini ternyata sangat bagus sekali. Novel ini juga sangat cocok sekali dibaca untuk segala umur. Terlebih lagi untuk kaum remaja seperti saya ini.
Novel ini juga mempunyai banyak amanat. Seperti pendidikan sangatlah penting untuk siapapun dan apapun seperti Lintang dan teman-temannya yang rela mengayuh sepeda berkilo-kilo meter hanya untuk mengejar pendidikan. Amanat lainnya yaitu janganlah membeda-bedakan teman, seperti Laskar Pelangi yang berisi sepuluh orang anak yang sangat berbeda baik dalam sifat, kepintaran, dan materi. Menurut saya, novel ini juga ingin mengajari kita bahwa walau orang itu pintar belum tentu masa depannya akan cemerlang. Seperti Lintang yang sangat pintar sekali dalam bidang akedemis ternyata hanya menjadi sopir truk. Sedangkan Syahdan yang tidak mengerti dengan teknologi berhasil menjadi manager di suatu perusahaan.
Novel ini benar-benar memotivasi saya supaya mengejar pendidikan karena pendidikan sangatlah penting dan membuat saya menjadi rajin untuk belajar karena anak-anak di dalam cerita ini saja yang hanya bersekolah si sekolah yang sangat tidak layak untuk dikatakan sebagai sekolah tetapi sangat rajin sekali. Walau banyak hal yang saya sangat suka dengan novel ini tapi ada juga hal-hal yang saya tidak suka. Penulis ( Andrea Hirata) sangat berlebihan dalam menceritakan sesuatu seperti pada waktu Ikal bertemu dengan Aling.

4.      Fikry Rasyid – 12 Oktober 2008
Gaya dan pola tulisan Novel Laskar Pelangi : deskriptif secara visual – teknikal -  emosional.
Deskriptif : gaya bahasa yang “memberikan penjelasan secara detil terhadap sesuatu objek”
Visual : Mendeskripsikan secara detil objek – objek yang tertangkap oleh panca indera bernama mata
Teknikal : Penggunaan istilah -istilah teknis, disertai penjelasan yang bersifat poetic
Emosional : penggambaran emosi yang dialami karakter secara tepat sehingga membuat pembaca mampu merasakan emosi yang tengah dialami karakter.
Saya pikir – pikir, gaya menulis ini memiliki kesamaan pola dengan gaya menulis yang juga digunakan pada novel – novel best seller kelas dunia seperti Harry Potter-nya J.K. Rowling, dan The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Keduanya menggairahkan pembaca dengan interpretasi mata kedalam tulisan, istilah – istilah teknikal yang mempesona dan membuka wawasan, dan melibatkan emosi pembaca dengan baik.
saya sudah nonton filmnya. dan seperti film adaptasi lainnya, saya merasa lebih “liar” ketika membaca novelnya. Walaupun begitu, film laskar pelangi tetap awesome. di tengah gempuran film2 homogen di industri film indonesia, film ini muncul dengan menawarkan kesederhanaan
5.      A.m – 16 Oktober 2008
hal yang menonjol dilaskar pelangi bagi saya adalah, dalam kesederhanaan mereka masih bisa mengukir sebuah prestasi dan semangat pantang menyerah.

6.      Shera – 18 Desember 2008
setelah saya membaca dan nonton laskar pelangi saya begitu terharu banyak pelajaran dan hikmah yang diambil. cita – cita yang penuh dengan perjuangan yang sangat tinnggi,semangat pantang menyerah,hanya dalam kesederhanaan mampu bersaing dengan orang2 yang lebih kaya,jadikan hidup ini lebih berarti
saya sangat mengagumi karya Andrea hirata, saya pengen belajar banyak tentang orang disekeliling kita yang sering dipandang sebelah mata,padahal mereka itu mempunyai banyak kelebihan,saya salut
7.      Johnny  Wirjosandjojo – 19 Januari 2011
Saya pernah membaca beberapa halaman awal Laskar Pelangi. Karena menurut saya gaya tulisan A. H. terlampau miskin rasa dan tidak menimbulkan gelora maka saya berhenti membacanya. Maaf, tidak ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya tertarik. Sebuah buku yang tidak perlu dipuja dan diperdebatkan.

8.      Durgadurga – 20 Januari 2011
 lebih mudah untuk menonton filmnya. dengan permainan akting yang tidak bagus, dan juga pengarahan riri reza sang sutradara yang kurang dingin dalam memberikan komando anak-anak pelangi, lalu pemilihan aktor dewasa yang kejakartaannya tidak bisa tertutupi, film ini menjadi film yang laris manis selaris bukunya.
nah, kalo baca novelnya mah tebal...capek matanya...

9.      M.H. Hibrida – 20 Januari 2011
Laskar Pelangi, entah novel entah filmnya, digaungkan dengan speaker nyaring menyuarakan motivasi diri: bahwa orang miskin, kalau mau berusaha, pasti bisa! Resonansi dari suara nyaring itu adalah kebutaan diri pada sistem, tepatnya pada struktur sosial pembentuk kondisi materialis seseorang atau kelompok masyarakat tertentu, seperti yang sudah diungkapkan oleh Nurhady Sirimorok. Dan penyebaran Laskar Pelangi ke panggung teater beberapa waktu lalu sebenarnya adalah semacam kooptasi terhadap dunia teater yang selama ini relatif kritis terhadap kekuasaan.
Antusiasme untuk dunia teater dari pementasan ini juga terlihat sama besarnya. Ditambah lagi: buku-buku agama yang ditulis oleh ustadz-ustadz muda juga berteriak-teriak tentang motivasi diri, berdasarkan ayat-ayat Alqur'an. Di samping itu, seminar-seminar motivasi semakin banyak digelar! Maka kesimpulannya sederhana: Masyarakat diarahkan, dan sepertinya berhasil diarahkan, ke lubang kenistaan diri: bahwa kalau kamu gagal, kamulah yang salah!
10.  Kenan Fabri Hartanto – 21 Januari 2011
hmmm, kalau saya sempat memuja-muja buku ini. tapi setelah membaca bukunya nurhady mata saya agak terbuka (baca sambil misuh2 sendiri). di buku ini setelah saya pikir2 lagi ada hal yang nggak masuk akal. misal, kepandaian lintang yang begitu luar biasanya dan saya pikir tak mungkin dikuasai anak sekecil it. seingat saya ada satu bagian di buku itu yangceritakan bagaimana lintang menjadi begitu pintar. itu pun digambarkan sebagai suatu momen yang magis.
11.  Alwi Atma Ardhana – 22 Januari 2011
Saya setuju kalau novel ini jelek. Ide di dalamnya tidak menarik. Berkaitan dengan isi cerita saya pikir kawan2 sudah meneriakkannya dengan lantang bahwa ada ketimpangan logika dalam penjabaran cerita si lintang oleh si hirata itu, seperti kemistisan kepandaian lintang, kemiskinan sebagai kesalahan diri sendiri, hingga tidak menyentuh bobroknya sistem pendidikan terutama di daerah terpencil macam daerah rumah si lintang itu. Kalau kritikan di atas langsung menuju pada isi cerita dalam novel, saya akan menambahkan satu hal yang berkaitan dengan unsur dalaman sebuah novel; penokohannya. Novel si Hirata mempunyai penokohan yang sangat membosankan. Tokoh2nya datar semua. Tidak ada kontradiksi-kontradiksi yang terjadi yang memicu perubahan tokohnya. Penokohan ini yang tidak datar ini membuat cerita juga menjadi membosankan. Kalo dikaitkan ke isi, dari cara penyajian dimana tokoh2nya tidak mempunyai kesempatan berkembang, tampaknya Hirata ini juga tidak percaya bahwa bocah2 di daerah terpencil mampu berkembang kalo gak ada bantuan mistis! Padahal yang membuat suatu novel realis 'jadi', menurut Lukacs, adalah kontradiksi2 yang terjadi di dalamnya karena pada dasarnya, karena Lukacs seorang Marxis, kenyataan hanyalah permukaan dari sebuah pergulatan kontradiktif.
Bagi saya, setiap novel patut diperdebatkan (karena memperdebatkan tidak sama dengan memuja). Novel jelek seperti Laskar Pelangi ini bahkan harus diperdebatkan. Jangan sampe, karena laris penjualannya, novel jelek ini yang diingat dan bukan karya-karya sastra yang jauh lebih baik. Saya gak rela kalo Hirata harus diingat di sisi kepala dimana seharusnya penulis seperti Pram, Kwee Tek Hoay, dll, berada. Maka, karya2 laris yang gak jelas pencapaiannya harus dibongkar melalui perdebatan macam ini yang kalo bisa berlanjut menjadi sebuah kritik sastra. Berhenti memperdebatkan karya2 macam Laskar Pelangi ini paling tidak melawan hegemoni (pe)mitos(an) sebuah karya berikut pengarangnya yang terjadi dimana-man di Indonesia!
12.  Denyisapri – 30 April 2011
Hal yang menarik dari Novel ini adalah dapat membangkitkan kita agar tidak mudah putus asa jika ingin meraih mimpi. Mengajarkan kita agar baik terhadap teman sesama dan mau untuk saling membantu. Dalam Novelnya, Andrea Hirata pandai menyelipkan pertanyaan yang terus tersirat, dari awal cerita sampai akhir ceritanya terdapat arti dari Bahasa Melayunya dan cara membacanya. Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannnya, Novel ini membuat para pembacanya mendapat sedikit kesulitan karena adanya Bahasa Melayu, adanya ungkapan dan khiasan dalam kalimat membuat cerita ini sedikit terasa sulit. Walaupun begitu, cerita ini tetap memikat dan penuh dengan muatan pesan yang dapat direnungkan dan diterjemahkan dengan lebih dalam.
13.  Febri Nur Indahsari – 3 Januari 2012
Menurut saya, novel LP ini temanya bagus, memuat tentang pendidikan. Novel tersebut mengangkat nm daerah kecil, Belitung, yang kemudian sekarang ini menjadi tempat wisata yang terkenal. Dengan adanya novel tersebut, diharapkan pemerintah dapat berkaca, bahwa perlunya mengembangkan pendidikan di daerah kecil itu sangat diperlukan, karena setiap anak berhak memperoleh pendidikn yang layak. Namun yang disayangkan dari novel tersebut adalah cara penceritaan Andrea Hirata yang terlalu bertele-tele.
14.  M. Abul Aziz – 4 Januari 2012
Menurutku yang paling membuat berkesan itu tema yang fresh ‘pendidikan’. Gaya bahasanya ringan dan enak dibaca.
Berdasarkan data yang diambil dari berbagai sumber di atas, diketahui bahwa dari 14 pembaca novel Laskar Pelangi, 4 pembaca menyukai sepenuhnya LP, 6 pembaca tidak menyukai LP, 4 sisa pembaca dikategorikan dalam pembaca netral, maksudnya, mereka menyukai LP, namun juga ada suatu hal yang tidak disukai.
Berbagai alasan diutarakan mereka. Kebanyakan alasan mengapa pembaca menyukai novel LP adalah karena tema novel tersebut yang menyinggung masalah pendidikan di Indonesia yang tidak merata. Perjuangan anak laskar pelangi yang gigih mencapai cita-cita, memberi motivasi tersendiri bagi pembaca. novel ini hendaknya bisa memberikan pandangan tentang pendidikan di Indonesia.
Seperti karya sastra lainnya, novel LP ini juga mempunyai kekurangan yang ditangkap pembaca, sehingga pembaca tidak terlalu tertarik dengan novel tersebut. Alasan utama pembaca adalah saat pertama membaca novelnya, pembaca sering merasa bosan dengan penceritaan yang terlalu panjang, bertele-tele, dan terkesan hambar, apalagi halaman novelnya tebal. Selain itu, pembaca juga merasa timpang dengan kepintaran Lintang yang tidak dijelaskan darimana asal-usul kepintaran Lintang, sementara ia anak pesisir yang sebelumnya tak pernah belajar.
Lepas dari tanggapan pembaca, novel Laskar Pelangi ini sudah mendunia. Banyak penghargaan yang telah didapatnya, di ajang yang digelar di Kaohsiung, Taiwan, pada Sabtu (19/12/2009), Laskar Pelangi meraih penghargaan Film Terbaik, The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di Internasional Festival of Films for Children and Young Adults di Hamedan, Iran. Laskar Pelangi masuk nominasi kategori film terbaik di Berlin Internasional Film Festival 2009, pada Asian Film 2009 di Hong Kong.. Andrea juga meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007,
Laskar Pelangi ini akan menjadi salah satu film yang diputar di Festival Film Internasional Fukuoka 2009, Jepang, dan telah diputar di beberapa negara di lima benua. Di Harare, Namibia, Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, lima kota di Amerika, empat kota di Australia dan Portugal. Ajang film internasional yang memutar Laskar Pelangi antara lain di Barcelona Asian Film Festival 2009 di Spanyol, Singapore Internasional Film Festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat. Laskar Pelangi juga akan diputar di Pusan International Film Festival 2009 .

BAB III

KESIMPULAN

Dari data diakronis yang diambil, bahwa kelebihan novel Laskar Pelangi terletak pada tema yang dijunjung Andrea Hirata, yaitu tema pendidikan yang sedang fresh. Novel ini juga mempengaruhi motivasi diri pembaca untuk lebih menghargai dan memperjuangkan cita-cita.
Setiap karya sastra pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sedangkan untuk kekurangannya terletak pada gaya kepenulisan Andrea yang dianggap pendeskripsiannya terlalu mendetail, bertele-tele, sehingga membuat pembaca jenuh.
Lepas dari kelebihan dan kekurangan yang diutarakan pembaca, sudah dibuktikan  bahwa novel LP ini adalah novel fenomenal di Indonesia yang menjadi best seller. Novel LP telah diterbitkan diluar negeri, diadaptasi kedalam film, musikal, dan serial di televisi. Keberhasilan Andrea Hirata ini disusul dengan sekuelnya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa novel best seller Laskar Pelangi yang dianggap dan dipuja pecinta sastra sebagai novel fenomenal, ternyata memiliki pembaca yang tidak menyukai dari segi-segi terntentu novel Laskar Pelangi.










DAFTAR PUSTAKA

-          Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta : Bentang.


-          denyisapri.blogspot.com




☝Thanks for reading guys. And please coment me ✍

No comments: