۩Thanks To ۩

Wednesday, January 18, 2012

Analisis Novel Desperadoes Campus Berdasarkan Pendekatan Mimetik


TA. Pengkajian Prosa

 - Pendekatan mimetik memandang sebuah karya sastra sebagai tiruan, pembayangan, cerminan dari alam maupun masyarakat. Sesuai dengan pengertian tersebut, novel DC yang merupakan kisah nyata dari pengalaman hidup seorang Saras alias Saraswati, teman dari pengarang, cocok dikaji dengan pendekatan mimetik. -


BAB I
PENDAHULUAN


I.          Latar Belakang
Rohrberger dan Woods memandang pendekatan mimetik sebagai pendekatan historis-sosiologis yang menyaran pada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban disini dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa karya sastra mewadahi sikap dan tindakan mereka sebagai persoalan pokok. (Rohrberger dan Woods, 1971 ; 9).
Oleh karena itu, karya sastra dapat dibawa ke dalam keterkaitan yang kuat dengan dunia sosial tertentu yang nyata, yaitu lingkungan sosial tempat dan waktu bahasa yang digunakan oleh karya sastra. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'.
Diantara genre karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial, karena unsur cerita dalam novel yang paling lengkap, memiliki media yang luas untuk menyajikan masalah-masalah kemasyrakatan. Selain itu, novel juga cenderung menggunakan bahasa sehari-hari dalam suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu menurut Hauser (1985 : 92) karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya.


Seperti halnya dalam novel Desperadoes Campus yang menggambarkan keadaan pada zaman pembuatan karya sastra tersebut, serta keadaan masyarakat yang sama seperti yang dialami tokoh utamanya dalam novel tersebut.

II.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, akan dilakukan analisis sebagai berikut :
1.      Menjelaskan mengapa novel Desperadoes Campus cocok dikaji menggunakan teori mimetik.
2.      Memaparkan bagian dalam novel Desperadoes Campus yang menunjukkan kemimetikan.



BAB II
PEMBAHASAN


I.         Landasan Teori
Dalam pendekatan mimetik, karya sastra merupakan tiruan atau pembayangan dari alam dan dari kehidupan nyata. Secara mimetik, dalam proses penciptaan karya sastra/seni, sastrawan/seniman telah melakukan pengamatan terhadap alam sekitarnya lebih dulu, sebelum kemudian menuangkannya menjadi sebuah karya sastra. Sehingga dapat diartikan bahwa karya sastra dalam mimetik adalah tanggapan seorang pengarang terhadap situasi di sekitarnya, dan karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata.
Aristoteles  menganggap dalam proses tiruan, pengarang tidak hanya mereflesikan ide, gagasan, pikiran mereka ke dalam karya sastra, melainkan juga menciptakan proses kreatif yang bertumpu pada kenyataan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Proses yang bertumpu pada kenyataan ini dilakukan pengarang untuk menghasilkan karya sastra yang sesuai dengan kenyataan kehidupan pada suatu waktu dan tempat tertentu. Oleh karena itu, Rohrberger dan Woods memandang pendekatan mimetik sebagai pendekatan historis-sosiologis yang menyaran pada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya.
Memang tidak dapat dipungkiri, pengarang akan memberikan imajinasi mereka, yang berasal dari penginderaannya untuk kemudian dituangkan  dalam karya sastra. Imajinasi yang diberikan pengarang kepada karya sastranya inilah yang berhubungan dengan teori mimetik, teori yang meneliti asal usul suatu karya sastra, sehingga teori mimetik adalah dasar dari pendekatan sosiologi sastra yang juga memandang karya sastra sebagai cerminan masyarakat sosial tertentu.
Sosiologi sastra memahami bahwa karya sastra bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, karena karya sastra diciptakan oleh perngarang yang merupakan anggota masyarakat. Di dalam karya sastra juga menyerap aspek kehidupan masyarakat dan masalah-masalah yang ada pada masyarakat.
Seperti halnya pada novel Desperadoes Campus yang menceritakan, menggambarkan, mendeskripsikan kehidupan masyarakat dan masalah yang ada pada masyarakat tersebut. Dengan kata lain, novel tersebut merupakan cerminan masyarakat sosial pada tempat dan waktu tertentu.

II.      Novel Desperadoes Campus
Novel Desperadoes Campus (DC) karya Ahmadi ini menceritakan tentang perjalanan Sarah dalam usahanya meraih gelar SI Sarjana Sastra Inggris di Universitas Biang Asmara, Malang, Jawa Timur. Sarah memang seksi, montok, dan cantik, karena itulah ia dipandang sebagai ‘wanita nakal’. Padahal sampai semester 6, ia belum pernah serius berpacaran dengan lelaki, dan ia merupakan wanita yang keras mempertahankan keperawanannya. Akibat asumsi kampus yang demikian, Sarah sering mendapatkan pelecehan seksual, baik perkataan maupun tindakan dari mahasiswa dan dosen.
Seperti yang dipaparkan wikipedia bahwa pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah. Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal
Sampai suatu ketika, keperawanannya direnggut oleh dosen yang paling dihormatinya. Dosen cabul itu bernama Romli, lelaki tua yang dikenal alim dan ramah, yang ternyata menggunakan pelet untuk mendapatkan Sarah. Akibatnya, Sarah hamil, karena tak mau menanggung resiko, Sarah menggugurkan kandungannya.
Pelecehan seksual yang didapat Sarah tak berhenti disitu, ketika Sarah mengerjakan skripsinya, dosen pembimbingnya minta ‘dilayani’, jika tidak, Sarah tidak akan diluluskan. Sarah menolak, dan karena penolakannya itu Sarah harus rela melupakan mimpinya menjadi sarjana. Akhir cerita, Sarah menjadi ‘pelayan’ sungguhan.
Cerita dalam novel tersebut merupakan cerita berdasarkan kisah nyata dari tokoh utama, Sarah, yang bernama asli Saraswati. Sarah adalah teman Ahmadi yang menceritakan pengalaman pelecehan seksual terhadapnya, yang kemudian oleh pengrang direalisasikan kedalam karya sastra, novel. Desperadoes Campus dalam bahasa Indonesia berarti Bandit Kampus. Pengarang memilih judul tersebut dikarenakan sesuai dengan isi yang ingin ia sampaikan kepada pembaca, yaitu tentang kebejatan yang terjadi di dalam lingkungan kampus.
Novel DC pertama kali diterbitkan dengan judul Jangan Panggil Aku Pe’cun pada tahun 2006, ketika penulis masih menjadi mahasiswa di salah satu Universitas di Malang. Akan tetapi novel tersebut dilarang beredar dan hanya bertahan beberapa minggu di toko buku, karena dianggap terlalu vulgar dalam pemakaian bahasa. Pada akhir Oktober 2008, saat terbongkarnya kasus pelecehan seksual di salah satu Universitas terkenal di Jakarta, pengarang merevisi bahasa DC tanpa mengubah esensi novel, dan menerbitkannya kembali pada tahun 2008 dengan penerbit yang berbeda.

III.   Analisis Mimetik Novel Desperadoes Campus
Pendekatan mimetik memandang sebuah karya sastra sebagai tiruan, pembayangan, cerminan dari alam maupun masyarakat. Sesuai dengan pengertian tersebut, novel DC yang merupakan kisah nyata dari pengalaman hidup seorang Saras alias Saraswati, teman dari pengarang, cocok dikaji dengan pendekatan mimetik.
Hal lain yang mendukung novel DC cocok dikaji dengan pendekatan mimetik selain isi cerita berasal dari kisah nyata, adalah karena adanya peristiwa yang mendukung peristiwa pada masa itu, seperti kata Hauser (1985 : 92) yang mengatakan bahwa karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Berikut hasil analisis yang menunjukkan bahwa novel DC merupakan tiruan dari masyarakat pada tahun sebelum dan setelah 2008.
1.         Novel DC ada karena keinginan pengarang, Ahmadi, untuk memberontak sistem pendidikan di Indonesia yang kian tidak bermoral. Sebelum novel DC terbit (sebelum tahun 2008), kasus pelecehan seksual sudah terjadi di lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, serta lingkungan kampus. Akan tetapi tidak banyak korban pelecehan yang berani melaporkan tindakan asusila tersebut kepada polisi, sehingga pelaku semakin leluasa melakukan tindakan pelecehan kepada korban tanpa dihantui rasa takut akan hukuman yang seharusnya didapat. Keinginan pengarang tersebut terlihat pada halaman Pengantar Penulis, dengan kutipan seperti berikut :
Saya sangat mencintai dunia pendidikan, teramat sangat!
Namun fenomena dunia pendidikan yang kian tak bermoral,
sehingga saya memiliki cara tersendiri untuk memberontak,
salah satunya dengan menulis.
2.         Seperti yang dikatakan pengarang cara ia memberontak adalah dengan cara menulis, sehingga ia menciptakan novel DC yang didasari cerita nyata dari temannya, Saraswati, alias Sarah, tokoh utama dalam novel yang mengalami pelecehan seksual. Pembaca tahu bahwa novel DC merupakan novel kisah nyata, karena dalam halaman Pengantar Penulis, pengarang menyebutkan nama Sarah dalam daftar terimakasih seperti berikut :
...sebagai bumbu-bumbu pemanis dalam sebuah cerita yang sudah lama terlupakan, namun selalu dalam ingatan seorang Saras...
Terima kasih Saraswati...tanpamu cerita ini tak pernah ada. Tanpamu jua aku tak pernah kenal siapa aku dan siapa dirimu...ini adalah karyamu!
3.         Hal lain yang membuktikan bahwa novel DC adalah cerminan masyarakat pada saat itu adalah, adanya artikel 21 April 2009 dari website VIVAnews tentang pelecehan seksual di Universitas Indonesia. Seorang dosen senior Fakultas Hukum melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswinya. Ternyata tak hanya pada tahun 2009, pada November 2008, alumni Fakultas Hukum UI juga melaporkan hal yang sama terhadap dosen yang sama pula. Kasus itu menjadi heboh dengan bertambahnya laporn mahasiswi-mahasiswi tentang perlakuan dosen senior tersebut. Salah satu mahasiswi yang melapor berinisial NI.
VIVAnews
...
Kuasa hukum NI, Shanti Dewi, mengatakan, pelecehan terhadap kliennya terjadi beberapa kali. Pertama di kantor sang dosen di Jalan Sudirman, Kav 2 Lt 15, Jakarta Pusat pada Desember tahun 2000 sekitar pukul 16.30 WIB. Kedua, pelecehan terjadi di kampusnya pada akhir tahun 2001 sekitar pukul 13.00 WIB.
Dari data artikel 21 April 2009 itu diketahui bahwa persitiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dosen senior Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, sudah sejak tahun 2000.
4.         Setelah terbit pertama kali, novel DC sempat dilarang beredar. Hingga pada akhir Oktober 2008, saat terbongkar kasus pelecehan seksual di Universitas terkemuka di Jakarta, membuat penerbit baru tertarik menerbitkan kembali novel DC yang telah direvisi pengarang.
...akhirnya hanya beberapa hari ngendap di gudang penerbitan. Hingga akhir Oktober 2008, saat terbongkarnya kasus pelecehan seksual di salah satu kampus terkemuka di Jakarta,...
Penanggalan tersebut sama halnya dengan penanggalan peristiwa terbongkarnya kasus pelecehan seksual di Universitas Indonesia, Jakarta. Pada tanggal 30 Oktober 2008, muncul artikel oleh Anton Aliabbas di situs www.inilah.com, yang mengungkap kasus tersebut. Berikut kutipan dari artikel tersebut :
INILAH.COM, Jakarta - Terangkatnya isu pelecehan seksual di kampus UI seakan menampar wajah dunia pendidikan Indonesia yang masih terpuruk tahun ke tahun.
Pelaku pelecehan seksual adalah dua dosen senior yang menyandang embel-embel profesor dan doktor.
Mereka berdua kebetulan bekerja di fakultas yang sama di kampus itu. Sang profesor keburu ketiban apes dengan mendapat sanksi nonaktif. Sementara dosen lain yang notabene bergelar S-3 dari universitas asing tetap aman karena si korban tidak berani mengadukan masalah ini ke tingkat fakultas. Alhasil, sang doktor masih dapat melenggang tanpa ada rusak sedikitpun nama baiknya.
Dalam novel DC, Sarah juga menerima pelecehan seksual dari dosen-dosennya, Pak Romli, Pak Samsuri, dan Pak Zainul, sama seperti kasus di atas, dosen-dosen tersebut masih bisa santai mengajar tanpa ada beban moral.

5.         Selain adanya peritiwa pelecehan seksual dalam novel DC yang mencerminkan masyarakat, ada pula peristiwa yang diceritakan pengarang dalam novel DC yang menggambarkan tentang kekuasaan, yang terlihat pada kutipan berikut :
“Sayang banget sobat, Aku hanya seorang penulis kecil, bukan anggota dewan, jadi tak kuasa kasih kamu pekerjaan. Aku hanya kutu buku buka n kutu uang, jadi tak ada lembaran-lembaran berharga itu yang bisa kuberikan untukmu. Aku hanya anak petani bukan anak Bupati, jadi ngggal bisa kasih kamu proyek.”
Kutipan di atas menggambarkan bahwa orang yang memiliki jabatan adalah orang yang berkuasa, sedangkan rakyat miskin, rakyat kurang mampu, dan rakyat biasa, tidak memiki kuasa apa-apa. Penggambaran kekuasaan tersebut tidak hanya menggambarkan situai politik pada waktu itu, namun situasi ‘siapa yang kuat yang berkuasa’, masih ada di Indonesia hingga sekarang.
6.         Kutipan :
Orantuaku bernama Hadi Sasongko, seorang pensiunan TNI dengan pangkat rendah dan kini menjadi satpam di sebuah pabrik tekstil. Yakh... negara kita memang tidak memiliki dana pensiun yang memadai untuk tentara kelas rendahan seperti bapakku. Negara kita hanya menyiapkan ruang untuk dikuras hartanya oleh wakil rakyat.
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Indonesia hanya perduli dengan pekerja yang berpangkat tinggi. Bahkan sering pula pekerja berpangkat tinggi yang bergaji tinggi, masih saja leluasa menggerogoti harta yang seharusnya untuk rakyat rendah.
7.         Kutipan :
Kota Malang dielu-elukan sebagai kota pendidikan di Jawa Timur. Kota yang menjadi idola para pelajar untuk menuntut ilmu.
Kutipan di atas memang menggambarkan bahwa Malang adalah kota pelajar kedua setelah Yogyakarta. Berbagai universitas ternama ada di kota yang udaranya sejuk ini, misalnya : Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka (Unmer) Universitas Machung, Institut Teknologi Negeri (ITN), Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Politeknik Kesehatan Malang (POLTEKES), Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia (STIKI), Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati), Sekolah Tinggi Teologi Salem, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), dan lainnya.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ahmadi Sofyan membuat novel Desperadoes Campus ini di latar belakangi oleh ketidaksukaannya melihat kasus pelecehan seksual yang ada i masarakat, terlebih lagi di duia pendidikan yang notabene tempat mencari ilmu. Dengan cara menulis, ia bisa menuangkan kritiknya terhadap aktor-aktor intelektual kampus bertindak bejat seperti bandit kampus.
Berdasarkan penyebutan kata terimakasih kepada Saraswati alias Sarah, tokoh utama novel DC, dan gaya penulisan yang ada di catatan pembuka dan catatan penutup yang menggambarkan pertemuan Ahamadi dan Saras, membuat pembaca berasumsi dan yakin bahwa cerita yang ada pada novel DC merupakan penggambaran kehidupan Sarah. Apalagi didukung dengan bukti-bukti dari artikel yang menunjukkan kesamaan peristiwa pelecehan seksual. Sehingga dapat dikatakan bahwa novvel Desperadoes Campus adalah gambaran atau cerminan masyarakat pada waktu terntentu.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

-          Sofyan, Ahmadi. Desperadoes Campus : Catatan Luka Mahasiswi Korban Dosen-Dosen Cabul, cet. 1. Yogyakarta : Aynat Publishing, 2008
-          www.VIVAnews.com
-          www.inilah.com


☝Thanks for reading guys. And please coment me ✍

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih banyak buat infonya... moga makin banyak followernya yah...